Melaksanakan ibadah haji atau umrah adalah puncak dari perjalanan spiritual seorang Muslim. Di antara rangkaian ibadah yang wajib dilaksanakan, Sa’i—berjalan atau berlari kecil antara Bukit Safa dan Marwah—memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam. Bagi para pemula, proses Sa’i mungkin terasa panjang dan membingungkan, terutama di tengah lautan manusia di Masjidil Haram.
Panduan ini disusun secara lengkap dan mendalam, berlandaskan ajaran syariat dan pengalaman praktis, untuk memastikan Anda dapat melaksanakan Sa’i dengan benar, khusyuk, dan sesuai tuntunan. Kami akan memandu Anda langkah demi langkah, mulai dari persiapan hingga penyelesaian, agar ibadah Anda diterima di sisi Allah SWT.
Panduan Lengkap Sa’i untuk Pemula: Langkah demi Langkah Menuju Kesempurnaan Ibadah
Memahami Filosofi dan Kedudukan Sa’i dalam Ibadah
Sa’i secara harfiah berarti ‘berjalan cepat’ atau ‘berusaha’. Dalam konteks ibadah, Sa’i adalah perjalanan tujuh kali bolak-balik antara Bukit Safa dan Bukit Marwah. Ritual ini bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan peneladanan atas keteguhan iman dan ketawakalan seorang ibu yang mencari pertolongan Allah SWT.
Sejarah Singkat Sa’i: Kisah Siti Hajar
Sa’i adalah pengingat abadi akan kisah heroik Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, yang ditinggalkan di lembah Mekkah yang tandus bersama putranya, Ismail AS. Ketika persediaan air habis, Hajar dengan panik berlari bolak-balik antara dua bukit, Safa dan Marwah, mencari air atau bantuan. Ia melakukannya sebanyak tujuh kali, hingga akhirnya Allah SWT memberikan mukjizat berupa mata air Zamzam yang memancar di dekat kaki Ismail.

sumber: alqomar.com
Melalui Sa’i, jamaah diajak untuk merasakan kepanikan, harapan, dan ketawakalan total Hajar. Ini mengajarkan kita bahwa dalam setiap usaha (Sa’i) yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, pertolongan Allah pasti akan datang.
Kedudukan Hukum Sa’i dalam Syariat Islam
Dalam pelaksanaan haji dan umrah, Sa’i memiliki kedudukan yang sangat penting:
- Rukun Umrah: Sa’i adalah salah satu rukun (pilar) dari ibadah umrah. Jika Sa’i ditinggalkan, maka umrah seseorang tidak sah dan harus diulang.
- Rukun Haji: Sa’i juga merupakan rukun haji. Jika ditinggalkan, haji tidak sah.
Karena kedudukannya sebagai rukun, Sa’i harus dilaksanakan dengan tata cara yang benar dan lengkap tujuh kali putaran. Tidak ada denda (dam) yang dapat menggantikan Sa’i jika ia ditinggalkan; ia harus disempurnakan.
Persiapan Sebelum Melaksanakan Sa’i
Meskipun Sa’i adalah ibadah fisik yang melibatkan berjalan dan berlari kecil, ada beberapa persiapan syar’i dan praktis yang harus dilakukan sebelum memulai, terutama bagi pemula.
Syarat Sah Sa’i
Untuk memastikan Sa’i Anda sah, perhatikan syarat-syarat berikut:
- Dilaksanakan Setelah Tawaf yang Sah: Sa’i harus selalu didahului oleh Tawaf Ifadah (untuk haji) atau Tawaf Umrah (untuk umrah). Tawaf harus diselesaikan tujuh putaran terlebih dahulu.
- Dimulai dari Safa dan Diakhiri di Marwah: Sa’i harus dimulai dari Bukit Safa dan putaran ketujuh harus berakhir di Bukit Marwah.
- Dilaksanakan Tujuh Kali Putaran: Jumlah putaran adalah wajib tujuh kali, tidak boleh kurang.
- Meliputi Seluruh Jarak: Jamaah harus berjalan menempuh seluruh jarak antara Safa dan Marwah.
- Tidak Disyaratkan Suci dari Hadats: Berbeda dengan Tawaf yang mensyaratkan wudu, Sa’i tidak mensyaratkan kesucian dari hadats kecil atau besar. Namun, melaksanakan Sa’i dalam keadaan suci (berwudu) adalah sangat dianjurkan (sunnah) untuk menambah kekhusyukan.
Tips Praktis untuk Kenyamanan
- Kenakan Pakaian yang Nyaman: Jika Anda sedang berihram, pastikan kain ihram tidak mengganggu gerakan. Jika tidak berihram, kenakan pakaian yang longgar dan menyerap keringat.
- Alas Kaki yang Tepat: Gunakan sandal atau sepatu yang nyaman dan sudah sering dipakai. Sa’i melibatkan jarak sekitar 450 meter per putaran, total sekitar 3,15 kilometer.
- Bawa Air Minum (Hidrasi): Meskipun di sepanjang jalur Sa’i (Mas’a) tersedia air Zamzam, membawa botol air kecil sangat disarankan, terutama jika kondisi sedang ramai dan panas.
- Hafalkan Doa Dasar: Siapkan doa-doa yang ingin Anda panjatkan. Sa’i adalah momen mustajab untuk berdoa.
Panduan Lengkap Sa’i Langkah demi Langkah
Setelah selesai melaksanakan Tawaf dan salat sunnah di Maqam Ibrahim, kini saatnya menuju Bukit Safa untuk memulai Sa’i. Ikuti langkah-langkah detail berikut:
Langkah 1: Menuju Bukit Safa dan Niat
Pergilah menuju Bukit Safa. Bukit ini kini berada di dalam kompleks Masjidil Haram dan ditandai dengan jelas. Anda akan naik ke area kecil yang sedikit ditinggikan.
- Menghadap Ka’bah: Setelah berada di atas Bukit Safa, hadapkan wajah Anda ke arah Ka’bah (jika terlihat atau merujuk ke arah Ka’bah).
- Membaca Ayat Sa’i: Dianjurkan membaca ayat suci Al-Qur’an yang berkaitan dengan Sa’i:
«إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ»
(Innash Shafa wal Marwata min sya’aairillah)Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158)
- Takbir dan Doa: Angkat kedua tangan Anda seperti ketika berdoa, lalu bertakbir tiga kali: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Kemudian ucapkan doa yang diriwayatkan dari Nabi SAW, atau doa apa pun yang Anda inginkan (dalam bahasa Arab atau bahasa ibu Anda).
- Niat: Tanamkan niat di dalam hati untuk melaksanakan Sa’i tujuh kali putaran, sebagai bagian dari umrah atau haji.
CATATAN PENTING: Berdiri di Safa dan berdoa adalah sunnah, namun niat di hati adalah rukun untuk memulai Sa’i.
Langkah 2: Perjalanan Pertama (Safa ke Marwah)
Setelah selesai berdoa di Safa, turunlah dan mulailah berjalan menuju Marwah. Ini dihitung sebagai PUTARAN PERTAMA.
- Berjalan Biasa: Selama perjalanan, perbanyaklah zikir, tasbih, tahmid, dan doa. Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca sepanjang jalur, namun dianjurkan untuk terus mengingat Allah.
- Melintasi Area Hijau (Al-Milain Al-Akhdarain): Anda akan menemui dua lampu neon hijau yang menandai area ini (sebelumnya pilar hijau). Area ini adalah penanda tempat di mana Siti Hajar berlari kencang.
Langkah 3: Melakukan Harwalah (Berlari Kecil)
Ketika Anda mencapai lampu hijau pertama (sekitar sepertiga perjalanan), Anda dianjurkan melakukan harwalah (berlari kecil atau berjalan cepat) hingga lampu hijau kedua.
- Bagi Laki-laki: Sunnah bagi laki-laki untuk berlari kecil (harwalah) dengan semangat di antara dua tanda hijau ini.
- Bagi Perempuan, Lansia, dan Orang Sakit: Perempuan, jamaah yang sudah lanjut usia, atau yang memiliki kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, cukup berjalan biasa.
Setelah melewati lampu hijau kedua, kembali berjalan biasa menuju Bukit Marwah.
Langkah 4: Tiba di Bukit Marwah (Putaran Pertama Selesai)
Setelah sampai di Bukit Marwah, putaran pertama Sa’i telah selesai. Lakukan hal yang sama seperti di Safa:
- Naik ke Bukit Marwah: Berdirilah di area Marwah.
- Menghadap Ka’bah: Hadapkan wajah Anda ke arah Ka’bah (meskipun tidak terlihat dari Marwah).
- Takbir dan Doa: Angkat tangan, bertakbir tiga kali, dan panjatkan doa-doa yang Anda inginkan.
PENTING: Pastikan Anda benar-benar mencapai batas Marwah. Sa’i tidak sah jika Anda berhenti sebelum mencapai batas akhir bukit.
Langkah 5: Melanjutkan Putaran Kedua (Marwah ke Safa)
Setelah selesai berdoa di Marwah, turun dan mulailah berjalan kembali menuju Safa. Ini dihitung sebagai PUTARAN KEDUA.
Selama perjalanan dari Marwah ke Safa, Anda juga akan melewati area hijau (Al-Milain Al-Akhdarain) dan disunnahkan untuk melakukan harwalah (berlari kecil) jika Anda laki-laki yang mampu.
Langkah 6: Menyelesaikan Tujuh Putaran
Teruslah bolak-balik antara Safa dan Marwah, selalu memulai putaran ganjil dari Safa dan putaran genap dari Marwah.
- Putaran 3: Safa ke Marwah
- Putaran 4: Marwah ke Safa
- Putaran 5: Safa ke Marwah
- Putaran 6: Marwah ke Safa
- Putaran 7: Safa ke Marwah
Sa’i Anda selesai ketika Anda tiba di Bukit Marwah pada putaran ketujuh. Setelah putaran ketujuh, naiklah ke Marwah, bertakbir, dan panjatkan doa penutup.
Langkah 7: Tahallul (Mengakhiri Ihram)
Bagi jamaah umrah atau haji yang baru selesai melaksanakan Sa’i, langkah selanjutnya adalah Tahallul (mencukur atau memotong rambut).
- Laki-laki: Dianjurkan mencukur habis (menggundul) rambut (Halq). Jika tidak, minimal memotong pendek seluruh rambut (Taqshir). Menggundul lebih utama.
- Perempuan: Cukup memotong sedikit ujung rambut (sepanjang ruas jari).
Dengan Tahallul, rangkaian ibadah umrah Anda selesai, dan Anda telah bebas dari larangan-larangan ihram.
Doa dan Zikir Selama Sa’i
Sa’i adalah waktu yang sangat baik untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Meskipun tidak ada doa khusus yang wajib dibaca di sepanjang jalur, ada beberapa sunnah yang sangat dianjurkan:
Doa di Atas Bukit Safa dan Marwah (Saat Menghadap Ka’bah)
Setelah membaca ayat Al-Baqarah 158, dianjurkan membaca zikir dan doa berikut (diulang tiga kali):
«اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ»
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, Dia menunaikan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan musuh sendirian.”
Zikir dan Doa Sepanjang Jalur
Manfaatkan waktu berjalan untuk:
- Memperbanyak istighfar (memohon ampunan).
- Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
- Membaca Al-Qur’an (jika tidak mengganggu konsentrasi).
- Memanjatkan doa-doa pribadi, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun umat Islam seluruhnya.
Hal-Hal yang Membatalkan dan Sunnah dalam Sa’i
Untuk memastikan Sa’i Anda sempurna, penting untuk memahami apa yang harus dihindari dan apa yang dianjurkan.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari Pemula
- Terlupa Jumlah Putaran: Ini adalah kesalahan paling sering. Jika Anda ragu, ambil jumlah terendah dan tambahkan putaran untuk memastikan genap 7 kali.
- Melewatkan Safa atau Marwah: Sa’i harus dimulai dari Safa dan diakhiri di Marwah. Jika Anda memulai dari Marwah, putaran pertama itu dianggap batal dan harus diulang dari Safa.
- Tidak Meliputi Seluruh Jarak: Meskipun Mas’a (tempat Sa’i) kini sangat lebar, pastikan Anda berjalan hingga mencapai batas bukit di kedua ujungnya.
- Berhenti di Tengah Jalan Tanpa Sebab Syar’i: Meskipun Sa’i tidak batal karena istirahat, menunda terlalu lama tanpa alasan (misalnya, berjam-jam) dapat merusak kontinuitas Sa’i.
- Harwalah bagi Wanita: Wanita tidak disunnahkan untuk berlari kecil di area hijau. Ini bisa menyebabkan fitnah dan kesulitan di tengah keramaian.
Sunnah yang Dianjurkan Selama Sa’i
- Suci dari Hadats: Melaksanakan Sa’i dalam keadaan berwudu.
- Kontinuitas (Al-Muwalat): Melaksanakan Sa’i secara berurutan tanpa jeda yang terlalu lama. Jika Anda perlu istirahat karena kelelahan, istirahatlah sebentar dan lanjutkan segera.
- Membaca Doa di Safa dan Marwah: Mengangkat tangan dan membaca zikir khusus di kedua bukit tersebut.
- Harwalah bagi Laki-laki: Berlari kecil di antara dua tanda hijau.
Tips Praktis untuk Sa’i yang Nyaman dan Efektif
Jalur Sa’i modern (Mas’a) terdiri dari beberapa lantai, dilengkapi pendingin udara, dan fasilitas Zamzam. Namun, keramaian dan jarak yang ditempuh tetap menuntut strategi yang baik.
1. Manajemen Waktu dan Keramaian
Waktu pelaksanaan sangat mempengaruhi kenyamanan. Cobalah laksanakan Sa’i di waktu-waktu yang relatif sepi:
- Tengah Malam hingga Subuh: Ini adalah waktu terbaik karena jamaah sedang beristirahat.
- Setelah Salat Isya: Meskipun ramai, keramaian cenderung lebih teratur dibandingkan setelah salat Maghrib.
- Hindari Puncak Keramaian: Jangan melakukan Sa’i segera setelah salat Jumat atau pada hari Arafah/Idul Adha (untuk haji) kecuali memang tidak ada pilihan.
2. Memilih Jalur yang Tepat
Mas’a memiliki beberapa lantai, termasuk lantai dasar, lantai satu, lantai dua, dan jalur khusus kursi roda/skuter listrik.
- Lantai Dasar: Paling ramai.
- Lantai Atas: Lebih panjang, tetapi sering kali lebih lengang dan memiliki pendingin udara yang lebih efektif.
- Jalur Kursi Roda/Skuter: Jika Anda memiliki kondisi fisik yang tidak memungkinkan berjalan, gunakan layanan kursi roda atau skuter listrik. Layanan ini resmi tersedia di lantai atas dengan biaya tertentu.
3. Kesehatan Kaki dan Hidrasi
Karena total jarak yang ditempuh cukup jauh, jaga kesehatan fisik Anda:
- Minum Zamzam: Manfaatkan fasilitas air Zamzam yang tersedia di sepanjang jalur. Minumlah setiap kali Anda berhenti sejenak.
- Fokus pada Kualitas, Bukan Kecepatan: Jangan terburu-buru. Sesuaikan langkah Anda dengan kemampuan fisik. Ingat, kekhusyukan lebih penting daripada kecepatan.
- Hindari Membawa Barang Berat: Tinggalkan tas besar atau barang bawaan yang tidak perlu. Bawa saja tas pinggang kecil untuk menyimpan ponsel dan dokumen penting.
Menghayati Makna Spiritual Sa’i
Sa’i adalah ibadah yang mengajarkan kita tentang usaha dan tawakal. Saat Anda berjalan di antara Safa dan Marwah, renungkanlah beberapa poin spiritual ini:
- Keteguhan Hajar: Hajar tidak menyerah meskipun ia telah berlari enam kali dan tidak menemukan apa-apa. Ia terus berusaha hingga putaran ketujuh, dan pertolongan datang bukan dari usahanya, melainkan dari kuasa Allah. Ini mengajarkan kita untuk tidak pernah putus asa dalam mencari rezeki dan pertolongan.
- Penghapusan Dosa: Setiap langkah yang Anda ambil adalah kesempatan untuk memohon ampunan. Jadikan Sa’i sebagai sesi muhasabah (introspeksi) dan permohonan ampun.
- Pengejaran Dunia dan Akhirat: Sa’i melambangkan perjuangan hidup kita di dunia. Area lari kecil (Harwalah) bisa diibaratkan sebagai usaha keras kita dalam mengejar rezeki halal, sementara berjalan biasa melambangkan ketenangan jiwa dalam beribadah kepada Allah.
Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang mendalam tentang makna Sa’i, Anda tidak hanya akan menyelesaikan rukun ibadah ini, tetapi juga akan mendapatkan pengalaman spiritual yang menguatkan iman. Semoga Allah SWT menerima setiap langkah dan doa Anda di tanah suci.
sumber : Youtube.com